Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Mei 2017

Traditional (goes to National) goes to International


Traditional is something old. That's on our mind, especially for most of the teenager who do not know what traditional exactly means. On the other hand, there must be figures who excessively love, keep, and try to preserve that thought, behavior, and concept(re:traditional).
Who should be blame then if we lost our tradition as the effect of such treats?
Should we blame this era that has changed to be modern?
Why don't we replace the idea of something old to something historic?
History must be learned and preserved, mustn't it?

Frankly speaking, ones who should be blamed is our-own-self. We don't have to address the question "why", we should realize that what we have done so far toward our tradition is gradually decrease our feeling toward our tradition. It might not be for all Indonesian people, but the majority of it. Blaming someone or even everyone doesn't make a change at all. What we have to do is learning and preserving, and these are quite difficult to do. Moreover in this globalization era in which the science and technology have control over the world, for instance, the process of making "batik" or we can say "batik tulis."





Who doesn't know batik? It is a world culture, isn't it?
There are so many kinds of batik exist in Indonesia from almost every island that has their own motifs and characteristics. But, unfortunately the tradition of "batik tulis" has gradually changed to printed batik, and I think that it decreased the essence of batik itself, although by that we can enjoy the product in the lower price. Yet, I hope that it will not hurt the "batik tulis" maker's feeling. And, we as the devotee of our culture have to love either printed batik or batik tulis.

Who says that batik is an old fashion?
If you said that batik  is an old fashion, you are totally wrong. It might be your thought that is not broad yet. We have to see that nowadays batik is much more than modern, not only the old generation who picks batik as their clothes, but also the young generation started to wear batik. I have seen many public figures proudly wear batik in their daily life, either in the formal or non-formal situation.


Kamis, 10 November 2016

Zona Nyaman

Jika kau datang kepadaku untuk sebuah kenyamanan,  jika rasa nyaman adalah alasanmu mencintaiku, dan jika keberadaanku ialah kenyamananmu, lantas ketika aku berada pada fase nyaman ataupun tidak nyaman dan aku tetap memujamu, apakah perasaan ini tetap kau sebut cinta?

Adakah istilah yang tepat untuk menafsirkan perasaan ini?

Jika memang bukan cinta, lalu apa?

Bolehkah aku seperti ini terhadapmu?

Terhadap orang yang sama sekali asing dalam kehidupanku, bahkan kapan dan di mana kau dilahirkan pun aku tak mengetahuinya, padahal kita telah saling bertukar cerita selama dua tahun ini.

Terlebih lagi kau dan aku hanya sebatas kenalan, yang pada awalya hanya ingin berbagi cerita bukan cinta.

Tak pernah sekalipun aku memprediksikan perasaan semacam ini akan tumbuh di antara kau dan aku, atau mungkin hanya aku.

Aku tak pernah tahu apa yang ada di benakmu tentang diriku yang (entah mengapa) selalu menerima kehadiranmu dan membiarkan kepergianmu tanpa bertanya apapun.

Aku tak pernah bertanya alasanmu kembali hadir ke dalam hidupku, ya, karena aku tak peduli.

Bukan masalah ketika kau mudah datang dan pergi, sebab masalahnya ada padaku, pada diriku yang lemah terhadap perasaanku sendiri.

Bahkan ketika sebuah luka tercipta atas kepergianmu, ia akan kering oleh kembalinya dirimu padaku, walaupun kau hanya berniat untuk singgah atau hanya beristirahat sejenak dari kisah percintaanmu dengan kekasihmu.

Ini versiku yang mencoba memandang diriku dari sudut pandangmu, aku hanya menerka-nerka dari kemungkinan terburuk yang bisa saja kau pikirkan terhadapku.

Namun, jika memang benar seperti itu juga versimu, kau hanya menjadikanku pelarian semata, aku bisa apa?

Toh, aku rela, aku baik-baik saja. Ya, aku memang bodoh dalam mengendalikan perasaan, aku pun menyadarinya.

Sayangnya, aku tak mampu menghindarinya, apalagi mengakhirinya.

Aku tak mengerti mengapa aku rela diperbudak perasaan semacam ini, ini aneh.

Jantung ini tetap berdegup kencang saat seseorang berbicara tentangmu, walau tanpa sengaja.

Ketika hanya sekadar membayangkan saat-saat di mana kita menghabiskan waktu bersama saja membuatku seakan-akan melayang, dan merasakan bahwa aku adalah wanita yang paling beruntung bisa mengenalmu, berada dalam pelukanmu, merasakan desah napasmu, dan mencium aroma tubuhmu sedekat itu, aku menemukan kebahagiaan itu, padamu.

Kita pernah sedekat itu sebelum akhirnya sejauh ini.

Aku tak tahu apakah kepergianmu kali ini untuk akhirnya kembali lagi nanti, atau kau ingin benar-benar pergi dari hidupku.

Bila kelak kau melupakanku, dan bila aku hanya bisa diam dalam perasaanku ini, sendiri, bolehkah ku pinta satu pinta lagi?

Lalu sebagai gantinya aku akan berusaha lebih keras lagi untuk tak mengusikmu dan kehidupan barumu.

Perkenankanlah aku menyapamu melalui angin, memandangmu dari sudut yang tak perlu dan takkan pernah kau jamah sekalipun.

Bahkan tak apa bila kita tak sengaja berjumpa dalam satu ruang dan kau mengabaikanku.

Aku bersyukur, untuk hanya sekedar diizinkan menghirup aroma parfummu yg tak sengaja terhempas angin, mungkin.

Selagi kau tak menghindari ketidaksengajaan yang demikian, aku akan baik-baik saja.

Seandainya pun aku terluka, toh kau takkan peduli karena aku bukan siapa-siapa, aku hanya pernah menjadi bagian dari sebagian kecil kehidupanmu.

Aku hanya pernah menjadi serpihan kecil dari serpihan kecil hidupmu, Dik.

Terima kasih karena telah menitipkan salam sebelum akhirnya memilih pergi, walaupun sebenarnya aku belum siap, atau mungkin tidak akan pernah siap untuk merelakan kepergianmu.

Setidaknya hati ini telah terlebih dahulu ditenangkan, dan jiwa ini tak perlu kemudian terkejut akan sebuah perpisahan.

Mungkin perasaanku tidaklah seberapa bagimu, semoga lekas kau temukan persinggahan baru yang diperuntukkan Tuhan kepadamu.

Aku akan tetap di sini, berpura-pura lupa atas apa yang telah kita jalani selama ini hingga aku benar-benar lupa bahwa aku tengah berpura-pura.

Aku tak menjanjikan tentang apakah aku akan mencari tuan baru untuk melabuhkan perasaanku yang semacam ini, aku hanya akan menunggu, entah itu kehadirannya atau kehadiranmu.

Semoga bahagia menyertai kau dan aku, kau dengan duniamu, dan aku dengan duniaku, atau mungkin dunia kita.


 

Monica Intan Template by Ipietoon Cute Blog Design